Senin, 13 Desember 2010

Bukan Biasa-Biasa Saja

Kondisi yang "biasa-biasa" saja bukanlah suatu kehidupan yang layak Anda jalani.


Disarikan dari buku The Achiever by Haryanto Kandani.

Kamis, 09 Desember 2010

Mimpi--Doa--Semangat

Kuatkan mimpi dalam doa dan jadikan ia sebagai bahan bakar semangat yang tak pernah padam dalam merealisasikan kebahagiaan hidup yang ingin Anda raih.

by Dendi Irfan

Kunci Sukses: Memberi Manfaat

Kesuksesan kita sangat bergantung pada sejauhmana kita bermanfaat untuk orang lain. AYO BEKERJA!

by Dendi Irfan

Selasa, 30 November 2010

Anda Seorang yang Mulia

Anda itu orang yang mulia maka lakukan setiap pekerjaan Anda dengan mulia. Anda itu orang yang berharga maka janganlah melakukan pekerjaan yang merendahkan martabat Anda. Anda itu orang yang spesial maka lakukanlah semuanya dengan spesial yang membuat Anda istimewa dari kebanyakan orang.

By Dendi Irfan

Hari yang Cerah

Hari yang CERAH diawali dengan hati yang CERAH. Setiap hari selalu baru.

By Dendi Irfan

Jumat, 12 November 2010

Surat-Surat yang Menghidupkan

Aku semakin mengerti tentang diriku setiap kali kumembaca surat-surat-Mu.

Tiada pernah jemu surat-surat-Mu memberikan nasihat yang selalu terasa baru bagiku, meski itu sudah berulang kali kubaca.

Wahai Rabb yang melembutkan hati; jangan pernah Kau mencabut nikmat ini dariku.
Izinkan aku untuk selalu membaca surat-surat-Mu di dalam keseharianku, agar aku mempunyai cukup bekal ketika saat menghadap diri-Mu telah tiba.

By Dendi Irfan

Kamis, 28 Oktober 2010

Contoh Menyesatkan atau Teladan Kebaikan?

Akhlak yang buruk adalah contoh yang menyesatkan. Akhlak yang baik adalah teladan dalam kebaikan. Terserah kepada Anda memilih yang mana; menjadi orang yang menyesatkan atau teladan dalam kebaikan bagi orang-orang di sekitar Anda!

By
Dendi Irfan

Rabu, 28 Juli 2010

Keagungan Ramadhan

Mualla bin Fadhl menceritakan, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Rajab al-Hambali bahwa para sahabat Rasulullah saw. biasa membagi dua belas bulan dalam setahun menjadi dua bagian. Enam bulan pertama, berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan Ramadhan dan beramal di dalamnya. Enam bulan kedua, berdoa agar amal-amal yang dilakukan pada bulan Ramadhan diterima Allah.

Ramadhan merupakan tamu agung yang dirindukan diharap-harapkan, sampai-sampai berharap seandainya semua bulan itu seperti bulan Ramadhan. Untuk lebih mengetahui keagungan Ramadhan, ada baiknya kita perhatikan hadits Nabi berikut ini.

Salman al-Farisi berkata, “Rasulullah saw. memberikan khotbah kepada kami pada detik-detik akhir bulan Sya’ban. Sabda beliau,

‘Wahai manusia, bulan yang mulia dan penuh berkah datang menaungi kalian. Suatu bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang Allah menetapkan puasa di dalamnya sebagai kewajiban dan qiyamullail di dalamnya sebagai kesunnahan. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu perbuatan baik di dalamnya, dia bagaikan orang yang melakukan suatu kewajiban di bulan lain. Barangsiapa melakukan suatu kewajiban pada bulan ini maka dia sama dengan orang yang melakukan tujuh puluh kewajiban di bulan lain.

Ramadhan adalah bulan kesabaran, sementara pahala kesabaran adalah surga. Ia bulan kedermawanan (sosial) dan bulan bertambahnya rezeki orang mukmin. Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa pada bulan ini, maka itu berarti pengampunan terhadap dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari neraka, ditambah ia memperoleh pahala yang serupa dengan orang yang berpuasa tanpa berkurang sedikit pun.’

Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, tidak semua kita memiliki makanan berbuka untuk orang lain yang berpuasa!’ Rasulullah menjawab, ‘Allah memberikan pahala ini kepada siapa pun yang memberi buka dengan sebiji kurma atau seteguk air atau sehirup susu.

Dialah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya ampunan, dan akhirnya merupakan pembebasan dari neraka. Barangsiapa memberikan beban yang lebih ringan kepada budaknya pada bulan ini, maka Allah memberikan pengampunan kepadanya dan membebaskannya dari neraka.

Pada bulan ini perbanyaklah olehmu empat perkara: dua perkara kamu dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan dua perkara lagi kamu sendiri membutuhkannya. Dua perkara yang kamu dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu ialah syahadat bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan permohonan ampun kepada-Nya (istigfar). Adapun dua perkara yang justru kamu sendiri membutuhkannya ialah memohon surga dan berlindung dari neraka.

Barangsiapa memberi minum kepada orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum dari telaga surgaku yang dia tidak akan merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk surga." (HR Ibnu Khuzaimah)

Kita Semua Mengalami

Setiap kita mungkin pernah mengalami, tiba-tiba saja istri kita di rumah uring-uringan tanpa sebab yang jelas; memasang muka masam serta banyak melakukan penolakan dan bantahan. Mungkin kita juga pernah mengalami sebagai orang tua, kok tiba-tiba anak-anak kita yang tadinya mudah diatur dan penurut, menjadi susah diatur dan banyak membantah serta memberontak. Sebagai guru mungkin kita pernah mengalami anak-anak didik kita banyak melawan dan tidak patuh. Sebagai dai mungkin kita pernah mengalami kata-kata kita tidak didengar orang, diacuhkan dan tidak dipedulikan.

Akan tetapi sebaliknya, kita mungkin pernah melihat seseorang yang nasihat-nasihatnya mudah diterima oleh orang lain, kata-katanya menyejukkan hati dan memberikan semangat jiwa. Kita mungkin pernah mendengar seorang imam shalat yang bacaan Qur’annya membuat makmumnya menangis tersedu-sedu, padahal kalau kita yang membaca, tidak ada orang yang menangis, malah mungkin jemu. Lalu, apakah artinya semua ini?

Mata hati seorang mukmin tidak pernah sepi dari kehadiran Allah; semua urusan selalu ia kembalikan kepada-Nya. Sebelum menilai sesuatu, ia selalu mengembalikan pada dirinya terlebih dahulu, mengintrospeksi sejauh mana ia sendiri berbuat. Ia sadar bahwa manusia adalah tempatnya kesalahan, tidak ada yang maksum kecuali Nabi Muhammad saw. Ia sadar bahwa setiap perilaku baik maupun buruk yang ia terima dari makhluk Allah yang ada di dunia ini adalah imbas dari hubungannya dengan Allah swt. Jika ia taat kepada Allah dengan banyak melakukan amal saleh, semua makhluk hidup insya Allah akan berlaku baik padanya. Sebaliknya, jika ia berbuat maksiat kepada Allah dengan melalaikan semua perintah-Nya, semua makhluk hidup insya Allah akan membencinya dan berlaku buruk padanya. Inilah sebabnya mengapa Sufyan ats-Tsauri berkata, “Aku mengetahui dosa-dosaku dari perilaku istriku, hewan peliharaanku, dan tikus yang ada di rumahku.” Sebagaimana juga firman Allah dalam surah asy-Syuura ayat 30, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” Karena pada hakikatnya, perilaku buruk yang kita terima adalah sebuah musibah bagi kita.

Kunci hubungan kita dengan diri kita sendiri adalah spiritual, sejauh mana kita membangun ma’nawiyah kita dengan melakukan amal-amal yang dapat mendekatkan kita kepada Allah. Sedangkan, Rasulullah menyebutkan bahwa kunci baik-buruknya seseorang terletak pada hatinya; jika ia baik maka baiklah seluruh perilakunya, jika ia buruk maka buruklah seluruh perilakunya. Jadi, jelaslah bahwa kekuatan spiritual yang menentukan hidup seseorang, termasuk hubungannya dengan orang lain dan seluruh ciptaan Allah. Karena komunikasi—sebagai kunci hubungan kita dengan orang lain—harus dimulai dari hati. Manakala hati kita bersih, jauh dari dosa dan maksiat, insya Allah hati orang lain pun akan mudah menerima kita. Karena sesungguhnya fitrah manusia membenci keburukan sehingga ia mudah menerima yang baik-baik dan disampaikan oleh orang yang hatinya juga baik. Hati manusia dapat melihat yang tersurat dan yang tersirat sehingga tidak dapat dikelabui.

Oleh karena itu wahai Saudaraku, bicaralah dari hati ke hati dan waspadalah terhadap dosa yang dapat melemahkan wibawamu di hadapan makhluk. Selalulah beramal saleh, bertobat, dan mengintrospeksi diri sehingga kedudukanmu tinggi di hadapan Allah dan seluruh makhluk-Nya.

By Dendi Irfan

Selasa, 26 Januari 2010