Kamis, 08 Oktober 2009

SALEH YANG CELAKA

Dalam suatu hadits qudsi, dikisahkan bahwa ketika Allah swt. memerintahkan kepada malaikat untuk mengazab suatu kaum, malaikat berkata, “Ya Allah, di negeri itu ada seorang hamba yang selalu beribadah dan orang saleh (rajulun ‘abidun shalih).” Tapi kata Allah, “Mulailah azabnya dari dia.”

Mengapa azabnya dimulai dari orang saleh itu? Kata Allah, karena dia tidak pernah memerah (marah wajahnya), tidak pernah marah karena Allah. Melihat kemungkaran dan kezaliman hanya berzikir saja.

Jelas sekali bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang saleh untuk dirinya sendiri saja, tanpa peduli dengan kondisi orang-orang di sekitarnya. Allah lebih menyukai orang-orang yang saleh, lalu ia juga mengajak orang lain untuk menjadi saleh. Ada amar ma’ruf nahi munkar di dalamnya. Ia juga dinilai saleh karena ia bermanfaat untuk orang lain (nafi’un lighairihi).

Dalam salah satu haditsnya, Nabi mengatakan bahwa sebaik-baik orang mukmin adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya. Nabi juga memerintahkan bahwa ketika kita menemukan kemungkaran, kita wajib mencegahnya dengan tangan kita, lisan kita, lalu hati kita dan ini adalah selemah-lemahnya iman. Begitu juga dengan perintah berzakat, infaq, dan sedekah; menyantuni anak yatim, berbakti kepada kedua orang tua, pergaulan dengan istri atau suami, dan sebagainya. Semua ini memperjelas bahwa kesalehan itu tidak untuk diri sendiri, tetapi karena ada interaksi kebaikan dengan orang lain.

Ada beberapa kasus di mana Nabi saw. pernah menegur sahabat-sahabatnya yang hanya memikirkan kesalehan dirinya sendiri. Suatu ketika, ada beberapa sahabat yang berkumpul dan membicarakan tentang ibadah mereka yang kurang. Di antara mereka ada yang memutuskan untuk shalat malam sepanjang malam, ada juga yang ingin berpuasa terus-menerus, dan ada yang tidak ingin menikah. Nabi menegur mereka dengan mengatakan bahwa beliau shalat malam, tapi juga tidur; beliau berpuasa, tapi juga berbuka; beliau paling bertakwa, tapi juga menikah. Dalam kasus lain, Nabi pernah menegur seorang sahabat yang selalu shalat malam dengan meninggalkan hak istrinya. Beliau mengatakan bahwa dalam diri kita terdapat hak orang lain; suami terhadap istrinya dan sebaliknya.

Ketika seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri, bahasa yang ia gunakan adalah bahasa nafsi-nafsi, padahal ini adalah bahasa akhirat, di mana ketika dihisab di hari Kiamat kita sendiri-sendiri, mendapat kenikmatan surga pun untuk sendiri-sendiri. Ketika bahasa akhirat yang kita gunakan, yaitu nafsi-nafsi, berarti kita telah mati sebelum ajal. Orang yang sudah mati, sudah menjadi mayat, akan menyebarkan bau yang tak sedap ke orang-orang sekitarnya. Menyebarkan fitnah, gosip, isu, dan mengajak orang lain melakukan keburukan.

Agar terhindar hal seperti itu dan kita dapat masuk surga-Nya Allah, kita harus melakukan pekerjaan ahli surga dan mengajak orang lain untuk turut serta. Dengan begitu, kita akan terus bergerak melakukan kebaikan yang insya Allah hal ini dapat menutup keburukan-keburukan kita. Ketika kita hanya memikirkan diri sendiri dan berdiam diri dengan membiarkan keburukan di sekitar kita, maka tanpa sadar, kita pun telah menyiapkan kebaikan kita tertutupi oleh keburukan-keburukan kita. Dan, kita pun harus siap menerima konsekuensi sebagaimana yang Nabi sabdakan dalam hadits qudsinya di atas, yakni berupa azab Allah yang akan menimpa kita manakala kita membiarkan keburukan dan kejahatan merajalela di sekitar kita. Wallahu a’lam.
By Dendi Irfan
Dimuat di kolom Hikmah Republika, 25 Juli 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar